INDONESIA KEKURANGAN GURU, KARENA GAJI KECIL, TEKANAN TINGGI, ORTU PESERTA DIDIK YANG MENYIKSA GURU, MENJADI PENYEBAB BANYAK ORANG TIDAK MAU JADI GURU

 

AHOY WAK, pada saat ini ada kendala yang sangat besar sedang melanda indonesia. tercatat dari tahun 2022 hingga 2024 dari banyaknya orang indonesia yang menganggur atau terkena phk, tidak ada yang mau menjadi guru. padahal memiliki gelar spd dan spdi. 


karena dari tahun 2018 hingga 2024 hak hak guru semuanya sudah hilang. dari mulai gaji guru yang di paksa dan disunat hingga menjadi 15ribu/pertemuan, sampai ada yang hanya 27ribu/hari.

padahal kalau dari pusat gaji guru di setiap sekola yang terdaftar untuk honorer memiliki gaji hingga 3.7juta perbulan, dan gaji guru tetap hingga 6.1 - 6.45 juta /bulan.


selain daripada gaji yang kecil dan tekanan dari pihak internal sekolah yang begitu besar tanggung jawabnya, para guru juga sering sekali diancam di bungkam dan dianiaya oleh para orang tua yang ga bertanggung jawab, pandai cuma buat anak otak ayah dan ibu si murid cuma ada di penis dan vagina. jadi  mereka sering melakukan tindak kekerasan terhadap guru.

dan sudah menjadi jawaban kenapa banyak sarjana lulusan teknik informatika, spd, spdi, sarjana ekonomi dan banyak lagi yang lebih memilih meninggalkan medan sumatra utara atau tempat lainnya, demi berkerja di luar negeri menjadi admin slot atau pun admin forex. dll. daripada harus menjadi guru.


dari tahun 2022 hingga 2024 terperkirakan isi orang indonesia terbagi menjadi 70% bajingan,15% orang buta dan 15% orang bodoh. dan tahun ini karena semua hal yang bersangkutan dengan hak hak guru yang sudah dengan sengaja di hapuskan, maka terhitung dari data statistik tahun 2024, indonesia terdiri dari 70% bajingan yang bodoh dan ngotot serta bangga dengan kebajingannya. 30% orang buta, dan bangga serta membela si bajingan yang 70%. 


oleh karena itu banyak sarjana di medan lebih memilih, membodohi bangsa yang tidak mau diajarkan kebenaran, dari pada mengajar menjadi guru tapi di penjara. "iya bang, saya baru pulang dari pilipina, kemarin disana jadi admin forex. gimana ya saya pandang emang orang indonesia ini dasarnya tolol. dan tidak mau terima kalau diajarkan yang benar, ditambah lagi pemerintahnya terus terusan mengkorupsi gaji kami sebagai guru, dari pada kami gila dan mati mending. kami bunuh saja bangsa bangsa tolol ini. toh emangkan yang kaya yang berkuasa. kalau perlu tolol terus deh semua ga usah ada yang sekolah jadi gampang kami menipu mereka. dengan bayangan trading." ujar ibnu mashani mantan guru sd di rantau prapat, yang baru pulang dari philipina sebagai perkerja trading forex.

"dulu saya mengajar di satu sekola sd negeri di medan, tapi karena ya taulah masa di gaji 20ribu/ hari, terus kita ngajarkan yang bagus bagusnya ke murid, tapi orang tua ga terima kalau kita tegur, tapi ya bersyukur juga jadi anak anak murid yang dulu di tahun 2017 saya ajarin sekarang kan mereka sudah sma. nah mereka sudah pada main trading nih, tapi namanya memang orang tololkan ya biarin aja cukup sama sama tau  heheheh. satu bulan saya bisa membodohi mantan murid saya hinggah 400juta untuk bermain di forex."ujar rosmina wati, guru sd negeri di medan. 

jadi gimana menurut pendapat para orang tua dan murid, sudah cukup paok kah kalian? kalau belum lanjutin aja dulu sampek kelen miskin. ga perlu sekolah sekolah itu scam, jangan marahin anak saya biar aja mau mereka nyabu kek, mau mereka mebunuh kek, mau mereka merampok membegal terserah mereka lah bukan ibu bapak guru yang kasih makan. mau mereka ga masuk sekolah biar dong kan saya sebagai orang tua yang bayar uang sekola. lanjutin ngomong gitu gpp. kita tengok hancurnya medan dari kebodohan orangtua milenial.

indonesia Masih Kekurangan Guru Agama, Guru Olahraga, dan Guru Kelas

Pemerintah melalui Menteri Pendidikan Dasar dan Menegah (Mendikdasmen) Prof. Abdul Mu'ti mencatat masih ada kekurangan jumlah guru bidang tertentu di Indonesia.

Bidang tersebut antara lain guru agama, guru olahraga, dan guru kelas yang jumlahnya masih kurang.

Semua masalah kekurangan jumlah guru itu, kata Prof. Mu'ti, berkaitan dengan masalah belum meratanya distribusi guru.

"Kami juga mendapatkan banyak data di mana guru bidang sudi tertentu juga masih sangat kurang, termasuk di dalamnya guru olahraga, kemudian guru agama, dan juga guru kelas, tapi memang problemnya adalah pada distribusi," kata Prof. Mu'ti.

Prof. Mu'ti menjelaskan, masalah distribusi itu tidak bisa dilepaskan dari adanya otonomi daerah yang bertugas untuk mengatur distribusi guru. "Dan kami di kementerian tidak bisa berbuat apa-apa dalam konteks itu karena kewenangannya memang tidak ada pada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah," ujarnya.

Terkait distribusi guru, Prof. Mu'ti mengatakan, saat ini rasio guru dan murid di Indonesia sudah mencukupi yakni 1:63.

Namun faktanya, lanjut Prof. Mu'ti, beberapa sekolah saat ini masih hanya memiliki sedikit guru. Bahkan, Prof. Mu'ti menuturkan, ada satu sekolah yang hanya punya satu guru.

"Tetapi, kita melihat realitas di lapangan ada sekolah-sekolah yang memang tidak ada gurunya satu sekolah hanya satu guru. Sementara ada sekolah yang gurunya berlebih ini memang terkait dengan sistem rekrutmen guru," ungkapnya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Popular Items